Blended Learning dan Internet Self-Efficacy dalam Penguatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila

Blended Learning dan Internet Self-Efficacy dalam Penguatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila

Judul Artikel : Enhancing Pancasila Education Outcomes: The Role of Blended Learning Models and Internet Self-Efficacy in Elementary Schools


Penulis: Mujtahidin & Moh. Wardi


Sitasi (APA Style)

Mujtahidin & Wardi, M. (2025). Enhancing Pancasila education outcomes: The role of blended learning models and internet self-efficacy in elementary schools. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, 17(2), 2735–2751. https://doi.org/10.35445/alishlah.v17i2.6789


Ulasan Singkat

Artikel ini membahas pengaruh model blended learning dan internet self-efficacy terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila pada siswa sekolah dasar. Penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa yang dinilai berkaitan dengan belum optimalnya penggunaan model pembelajaran inovatif dalam Pendidikan Pancasila di tingkat sekolah dasar. Penelitian menggunakan desain kuasi eksperimen dengan melibatkan 288 siswa kelas IV dari sekolah dasar negeri dan swasta di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model blended learning memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila dibandingkan model direct instruction. Siswa yang belajar menggunakan blended learning memperoleh rata-rata hasil belajar lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar melalui pembelajaran langsung. Selain itu, siswa dengan tingkat internet self-efficacy tinggi juga menunjukkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan tingkat internet self-efficacy rendah. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa tidak terdapat interaksi signifikan antara model pembelajaran dan internet self-efficacy. Artinya, kedua variabel tersebut memberikan pengaruh secara mandiri terhadap hasil belajar siswa.

Artikel ini memberikan gambaran bahwa penerapan pembelajaran berbasis teknologi di sekolah dasar memerlukan kesiapan pedagogis guru sekaligus kesiapan psikologis siswa dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Blended learning dipandang mampu memperluas pengalaman belajar siswa melalui kombinasi pembelajaran tatap muka dan pemanfaatan sumber belajar digital yang lebih fleksibel dan kontekstual. Dalam praktiknya, penggunaan platform digital seperti YouTube dan Google Classroom membantu siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih variatif serta mendorong keterlibatan belajar secara lebih aktif.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa karakteristik generasi siswa sekolah dasar saat ini yang dekat dengan teknologi digital perlu direspons melalui pendekatan pembelajaran yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks Pendidikan Pancasila, penggunaan teknologi pembelajaran tidak hanya diarahkan pada peningkatan hasil belajar kognitif, tetapi juga dapat menjadi sarana penguatan kemandirian belajar, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan literasi digital peserta didik. Dalam perspektif pembelajaran transformatif berbasis nilai Pancasila, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran perlu tetap diarahkan pada penguatan dimensi karakter dan nilai kemanusiaan. Blended learning dapat menjadi ruang pembelajaran yang mendukung peserta didik untuk belajar secara mandiri, bertanggung jawab, dan reflektif dalam menggunakan teknologi secara bijak. Dengan demikian, pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang adaptif, beretika, dan sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.


Blended Learning dan Internet Self-Efficacy dalam Penguatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila

Judul Artikel : Enhancing Pancasila Education Outcomes: The Role of Blended Learning Models and Internet Self-Efficacy in Elementary Schools


Penulis: Mujtahidin & Moh. Wardi


Sitasi (APA Style)

Mujtahidin & Wardi, M. (2025). Enhancing Pancasila education outcomes: The role of blended learning models and internet self-efficacy in elementary schools. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, 17(2), 2735–2751. https://doi.org/10.35445/alishlah.v17i2.6789


Ulasan Singkat

Artikel ini membahas pengaruh model blended learning dan internet self-efficacy terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila pada siswa sekolah dasar. Penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa yang dinilai berkaitan dengan belum optimalnya penggunaan model pembelajaran inovatif dalam Pendidikan Pancasila di tingkat sekolah dasar. Penelitian menggunakan desain kuasi eksperimen dengan melibatkan 288 siswa kelas IV dari sekolah dasar negeri dan swasta di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model blended learning memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila dibandingkan model direct instruction. Siswa yang belajar menggunakan blended learning memperoleh rata-rata hasil belajar lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar melalui pembelajaran langsung. Selain itu, siswa dengan tingkat internet self-efficacy tinggi juga menunjukkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan tingkat internet self-efficacy rendah. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa tidak terdapat interaksi signifikan antara model pembelajaran dan internet self-efficacy. Artinya, kedua variabel tersebut memberikan pengaruh secara mandiri terhadap hasil belajar siswa.

Artikel ini memberikan gambaran bahwa penerapan pembelajaran berbasis teknologi di sekolah dasar memerlukan kesiapan pedagogis guru sekaligus kesiapan psikologis siswa dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Blended learning dipandang mampu memperluas pengalaman belajar siswa melalui kombinasi pembelajaran tatap muka dan pemanfaatan sumber belajar digital yang lebih fleksibel dan kontekstual. Dalam praktiknya, penggunaan platform digital seperti YouTube dan Google Classroom membantu siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih variatif serta mendorong keterlibatan belajar secara lebih aktif.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa karakteristik generasi siswa sekolah dasar saat ini yang dekat dengan teknologi digital perlu direspons melalui pendekatan pembelajaran yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks Pendidikan Pancasila, penggunaan teknologi pembelajaran tidak hanya diarahkan pada peningkatan hasil belajar kognitif, tetapi juga dapat menjadi sarana penguatan kemandirian belajar, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan literasi digital peserta didik. Dalam perspektif pembelajaran transformatif berbasis nilai Pancasila, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran perlu tetap diarahkan pada penguatan dimensi karakter dan nilai kemanusiaan. Blended learning dapat menjadi ruang pembelajaran yang mendukung peserta didik untuk belajar secara mandiri, bertanggung jawab, dan reflektif dalam menggunakan teknologi secara bijak. Dengan demikian, pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang adaptif, beretika, dan sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.