Judul Artikel : The influence of blended learning models and internet self-efficacy on digital citizenship attitudes of elementary school students in Indonesia
Penulis: Mujtahidin; Wahjoedi; Suko Wiyono; Rosyid Al Atok; Milena Mileva Blažić
Penerbit : Psychological Science and Education
Sitasi (APA Style)
Mujtahidin, M., Wahjoedi, W., Wiyono, S., Atok, R.A., Blažić, M.M. (2025). The influence of blended learning models and internet self-efficacy on digital citizenship attitudes of elementary school students in Indonesia. Psychological Science and Education, 30(3), 47–58. https://doi.org/10.17759/pse.2025300304
Ulasan Singkat
Penelitian ini membahas pengaruh blended learning dan internet self-efficacy terhadap pembentukan kewarganegaraan digital siswa sekolah dasar. Blended learning mengintegrasikan pembelajaran tatap muka dengan aktivitas belajar berbasis teknologi digital, sedangkan internet self-efficacy berkaitan dengan tingkat kepercayaan diri siswa dalam menggunakan internet dan teknologi digital secara efektif. Penelitian ini membandingkan dua pendekatan pembelajaran. Pertama, Model blended learning, yaitu kombinasi pembelajaran tatap muka dan online, dan offline. Dalam model ini, siswa tidak hanya menerima penjelasan guru di kelas, tetapi juga melakukan aktivitas belajar melalui platform digital. Kedua, model direct instruction (model pembelajaran langsung), yaitu pembelajaran langsung yang lebih terstruktur dan berpusat pada guru tanpa integrasi teknologi secara intensif. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan analisis statistik MANOVA, sehingga mampu menguji pengaruh masing-masing faktor sekaligus interaksi di antara keduanya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui blended learning memiliki sikap kewarganegaraan digital yang lebih baik dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung biasa (F = 8,856; p < 0,05). Namun, temuan yang lebih menarik adalah bahwa pengaruh internet self-efficacy bahkan lebih kuat. Siswa dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dalam menggunakan internet menunjukkan sikap kewarganegaraan digital yang lebih positif (F = 21,983; p < 0,05). Penelitian ini juga menemukan adanya efek interaksi antara model pembelajaran dan self-efficacy (F = 6,938; p < 0,05). Artinya, blended learning paling efektif diterapkan pada siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi dalam menggunakan teknologi. Sementara itu, siswa dengan internet self-efficacy rendah memerlukan pendampingan dan dukungan tambahan agar dapat merasakan manfaat yang sama.
Temuan ini memberikan pesan penting bahwa keberhasilan pembelajaran digital sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu desain pembelajaran dan kesiapan psikologis siswa. Blended learning efektif karena memberi ruang eksplorasi, kolaborasi, dan pengalaman langsung dalam menggunakan teknologi. Namun, jika siswa tidak percaya diri menggunakan internet, potensi model tersebut tidak akan optimal. Dengan demikian, pembentukan sikap kewarganegaraan digital merupakan hasil interaksi antara pendekatan pedagogis dan faktor internal siswa. Bagi guru sekolah dasar, penelitian ini menegaskan pentingnya memahami tingkat kepercayaan diri siswa dalam menggunakan internet sebelum menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Pendekatan yang terdiferensiasi diperlukan agar semua siswa dapat berkembang secara optimal. Bagi pembuat kebijakan pendidikan dan sekolah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum digital sebaiknya tidak hanya fokus pada literasi teknis, tetapi juga pada penguatan self-efficacy dan pembentukan nilai etis dalam penggunaan teknologi.
Transformasi digital di sekolah dasar memerlukan pendekatan yang lebih holistik. Teknologi perlu dipadukan dengan strategi pedagogis yang tepat agar mampu membentuk karakter digital siswa yang etis, aman, dan bertanggung jawab di era pembelajaran modern. Siswa dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dalam menggunakan internet juga menunjukkan perilaku digital yang lebih positif, bertanggung jawab, dan adaptif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran digital tidak hanya bergantung pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada kesiapan psikologis peserta didik dan desain pembelajaran yang mendukung interaksi, eksplorasi, dan kolaborasi.

