Penulis #
Mujtahidin; Wahjoedi; Suko Wiyono; Rosyid Al Atok; Milena Mileva Blažić
Ulasan Singkat #
Penelitian ini membandingkan dua pendekatan pembelajaran. Pertama, Model blended learning, yaitu kombinasi pembelajaran tatap muka dan online, dan offline. Dalam model ini, siswa tidak hanya menerima penjelasan guru di kelas, tetapi juga melakukan aktivitas belajar melalui platform digital. Kedua, model direct instruction (model pembelajaran langsung), yaitu pembelajaran langsung yang lebih terstruktur dan berpusat pada guru tanpa integrasi teknologi secara intensif. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan analisis statistik MANOVA, sehingga mampu menguji pengaruh masing-masing faktor sekaligus interaksi di antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui blended learning memiliki sikap kewarganegaraan digital yang lebih baik dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung biasa (F = 8,856; p < 0,05). Namun, temuan yang lebih menarik adalah bahwa pengaruh internet self-efficacy bahkan lebih kuat. Siswa dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dalam menggunakan internet menunjukkan sikap kewarganegaraan digital yang lebih positif (F = 21,983; p < 0,05). Penelitian ini juga menemukan adanya efek interaksi antara model pembelajaran dan self-efficacy (F = 6,938; p < 0,05). Artinya, blended learning paling efektif diterapkan pada siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi dalam menggunakan teknologi. Sementara itu, siswa dengan internet self-efficacy rendah memerlukan pendampingan dan dukungan tambahan agar dapat merasakan manfaat yang sama. Temuan ini memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan bahwa teknologi saja tidak cukup. Memberikan akses perangkat dan internet bukan jaminan terbentuknya karakter digital yang baik. Keberhasilan pembelajaran digital sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu desain pembelajaran dan kesiapan psikologis siswa. Blended learning efektif karena memberi ruang eksplorasi, kolaborasi, dan pengalaman langsung dalam menggunakan teknologi. Namun, jika siswa tidak percaya diri menggunakan internet, potensi model tersebut tidak akan optimal. Dengan demikian, pembentukan sikap kewarganegaraan digital merupakan hasil interaksi antara pendekatan pedagogis (ISE) dan faktor internal siswa (model pembelajaran) Bagi guru sekolah dasar, penelitian ini menegaskan pentingnya memahami tingkat kepercayaan diri siswa dalam menggunakan internet sebelum menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Pendekatan yang terdiferensiasi diperlukan agar semua siswa dapat berkembang secara optimal. Bagi pembuat kebijakan pendidikan dan sekolah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum digital sebaiknya tidak hanya fokus pada literasi teknis, tetapi juga pada penguatan self-efficacy dan pembentukan nilai etis dalam penggunaan teknologi.
Catatan Reflektif #
Membangun generasi digital yang bertanggung jawab tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi di ruang kelas. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi itu dirancang dalam pembelajaran, serta bagaimana siswa merasa percaya diri dalam menggunakannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika blended learning dipadukan dengan tingkat internet self-efficacy yang baik, siswa sekolah dasar lebih siap menjadi warga digital yang etis, aman, dan bertanggung jawab. Di tengah transformasi pendidikan digital yang terus berkembang, integrasi antara pedagogi yang tepat dan penguatan kepercayaan diri teknologi menjadi kunci masa depan pendidikan kewarganegaraan digital.
Panduan Sitasi #
Membangun generasi digital yang bertanggung jawab tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi di ruang kelas. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi itu dirancang dalam pembelajaran, serta bagaimana siswa merasa percaya diri dalam menggunakannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika blended learning dipadukan dengan tingkat internet self-efficacy yang baik, siswa sekolah dasar lebih siap menjadi warga digital yang etis, aman, dan bertanggung jawab. Di tengah transformasi pendidikan digital yang terus berkembang, integrasi antara pedagogi yang tepat dan penguatan kepercayaan diri teknologi menjadi kunci masa depan pendidikan kewarganegaraan digital.